Kemunculan benjolan di bibir kemaluan sering kali membuat banyak wanita khawatir. Terlebih jika disertai dengan rasa gatal, nyeri, atau perih saat buang air kecil. Benjolan ini bisa muncul di bagian kiri, kanan, atau kedua sisi bibir kemaluan. Dalam beberapa kasus, benjolan tidak berbahaya dan bisa hilang dengan sendirinya, namun pada kondisi tertentu, ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius.
Tak semua benjolan di area genital perlu penanganan medis segera. Namun, jika benjolan tidak kunjung hilang dalam waktu lebih dari satu minggu, terasa nyeri, membesar, bernanah, atau disertai gejala lain seperti gatal intens, perih saat buang air kecil, atau keluar cairan tidak normal, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Diagnosis dini bisa membantu menentukan penyebab benjolan dan langkah pengobatan yang tepat.
Jangan menunda pemeriksaan, terlebih jika kamu memiliki riwayat hubungan seksual yang berisiko atau gejala semakin memburuk. Dokter umum biasanya akan merujuk ke spesialis kulit dan kelamin atau kandungan sesuai indikasi.
Berikut beberapa penyebab benjolan yang paling sering ditemukan pada bibir kemaluan wanita:
Kista Bartholin adalah penyebab umum benjolan di area vagina, terutama jika benjolan terasa lunak dan tidak nyeri. Kista ini terbentuk ketika kelenjar Bartholin tersumbat dan menumpuk cairan. Jenis kista lain seperti epidermal, inklusi, gartner, dan skene juga bisa menjadi pemicu. Biasanya, kista tidak menyebabkan rasa sakit kecuali jika terinfeksi. Jika sudah membesar atau terasa tidak nyaman saat duduk atau berhubungan seksual, penanganan medis diperlukan.
Beberapa IMS dapat menyebabkan benjolan di area kelamin. Misalnya, kutil kelamin yang disebabkan oleh HPV bisa muncul sebagai benjolan kecil di sekitar vagina dan anus. Sementara itu, herpes genital dapat menimbulkan lepuhan menyakitkan yang berkembang menjadi luka terbuka. Kedua kondisi ini biasanya disertai gatal, sensasi terbakar, atau keputihan tidak normal.
Kondisi kulit kronis ini ditandai dengan peradangan folikel rambut dan kelenjar keringat yang menyebabkan benjolan nyeri, abses bernanah, atau bisul di area selangkangan dan kemaluan. Hidradenitis suppurativa cenderung berulang dan bisa meninggalkan bekas luka. Penanganan memerlukan pendekatan jangka panjang dengan antibiotik, salep topikal, atau bahkan tindakan bedah jika parah.
Tumor jinak seperti fibroma atau lipoma bisa menyebabkan munculnya benjolan yang lunak dan tidak menyakitkan. Namun, dalam kasus yang jarang, benjolan bisa mengindikasikan kanker vulva, terutama jika disertai gejala seperti pembengkakan kelenjar getah bening di paha, rasa nyeri saat buang air kecil, atau benjolan yang tidak kunjung sembuh. Kanker vulva biasanya muncul pada wanita usia lanjut, tapi tidak menutup kemungkinan menyerang wanita muda dengan faktor risiko tertentu.
Ketidakseimbangan flora normal dalam vagina dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri jahat yang berlebihan. Selain benjolan, gejala lain termasuk gatal hebat, keputihan berbau amis, nyeri saat berhubungan seksual, dan iritasi. Infeksi ini perlu ditangani dengan antibiotik untuk mencegah penyebaran dan komplikasi.
Mencukur rambut kemaluan atau waxing bisa menyebabkan rambut tumbuh ke dalam (ingrown hair), yang akhirnya membentuk benjolan kecil mirip jerawat. Folikulitis biasanya tidak serius dan akan hilang dengan sendirinya, tetapi bisa menimbulkan rasa nyeri dan gatal.
Meskipun beberapa penyebab tidak bisa sepenuhnya dicegah, kamu tetap bisa melakukan beberapa hal untuk menurunkan risikonya:
Jika benjolan berukuran kecil, tidak nyeri, dan tidak disertai gejala lain, kamu bisa mengompres area tersebut dengan air hangat selama beberapa hari. Hindari memencet atau menggaruk benjolan karena bisa memperburuk kondisi atau menimbulkan infeksi. Namun, jika kondisi tidak membaik atau malah memburuk, segera temui dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Benjolan di bibir kemaluan bukanlah kondisi yang bisa disepelekan, terutama jika disertai gejala lain seperti nyeri, gatal, atau perubahan pada kulit sekitar. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari hal ringan seperti rambut tumbuh ke dalam hingga kondisi serius seperti infeksi menular seksual atau kanker. Oleh karena itu, penting untuk waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter jika menemukan benjolan yang tidak biasa di area intim.
Penanganan yang tepat dan menjaga kebersihan area genital menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Jangan melakukan diagnosis sendiri tanpa keahlian medis, dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapat penanganan terbaik sesuai penyebabnya.
Baca Juga: Bayi Cegukan: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Hal yang Harus Dihindari